HASIL pemantauan Direktorat Bina Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), Nusa Tenggara Timur, dan Gorontalo sejak 2005 masuk dalam kategori sepuluh provinsi dengan kasus gizi buruk tertinggi. Penduduk Jateng pada 2006 dinyatakan paling banyak menderita gizi buruk.
Pada 2009, Jatim menduduki posisi teratas kasus gizi buruk nasional. Tahun ini, jumlah balita penderita gizi buruk di Jatim tercatat 77.500 orang. Angka tersebut mencapai 2,5 persen di antara 3,1 juta balita. Bahkan, angka balita yang kurang gizi jauh lebih tinggi. Yaitu, 527.000 anak atau 17 persen di antara total balita.
Jika ditelusuri, sebagian besar kasus gizi buruk terjadi di daerah pesisir yang sejatinya mempunyai sumber daya alam laut melimpah. Selama Januari-Juni 2010, tercatat ada 618.735 penduduk miskin di Kabupaten Jember. Empat di antara 43 pasien anak-anak penderita gizi buruk meninggal. Jember merupakan salah satu daerah produsen ikan laut terbesar di pesisir selatan Jatim.
Di Pulau Madura yang merupakan sentra perikanan tangkap dan budi daya, angka penderita gizi buruk masih cukup tinggi. Pada Januari-April 2010, tercatat sepuluh penderita gizi buruk di Kabupaten Pamekasan. Sebanyak 17 penderita gizi buruk di Kabupaten Bangkalan harus dirawat secara intensif.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) 2007, tingkat kemiskinan di Madura merupakan yang terparah di Jawa Timur. Laju pertumbuhan ekonomi di Madura juga paling lambat. Yakni, sekitar 4,8 persen (Surabaya 6,9 persen). Menurut survei Gerdu Taskin 2007, angka kemiskinan tertinggi di Jatim terdapat di Kabupaten Sampang dengan 51 persen penduduk miskin. Posisi kedua ditempati Kabupaten Pamekasan dengan 35 persen penduduk miskin.
Berdasar Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2008, terdapat 150.386 rumah tangga miskin (RTM) dan 540.678 penduduk miskin (PM) di Kabupaten Sampang. Kabupaten Pamekasan berada di urutan kedua dengan 109.017 RTM dan 362.017 PM. Kabupaten Bangkalan memiliki 97.519 RTM dan 331.838 PM. Kabupaten Sumenep mempunyai 11.049 RTM dan 33.231 PM. Produk domestik regional bruto penduduk Madura adalah Rp 2,875 miliar. Angka itu berbeda jauh jika dibandingkan dengan Surabaya yang mencapai Rp 67,6 miliar.
Kendati tingkat ekonominya cukup makmur, masyarakat Surabaya tidak terlepas dari kasus gizi buruk. Di kawasan Bulak, Surabaya, ditemukan 13 balita yang menderita gizi buruk dengan kondisi yang cukup memprihatinkan (Jawa Pos, 16/7). Ironisnya, di Kelurahan Kedungcowek, Kecamatan Bulak, terdapat sentra pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Sentra tersebut dibangun dengan biaya Rp 7 miliar.
Akar permasalahan gizi buruk adalah kemiskinan yang tidak teratasi, tingkat pendapatan dan pengetahuan yang rendah, kurangnya pemanfaatan SDM, meningkatnya pengangguran, serta inflasi. Sebagai provinsi maritim dengan luas perairan 208.138 kilometer persegi dengan potensi ikan laut 1,6 juta ton per tahun, sebenarnya, Jatim sangat unggul dalam produksi ikan dan makanan laut. Pada 2009, produksi perikanan tangkap mencapai 368.113 ton dan hasil budi daya 201.000 ton.
Sayang, sebagai lumbung ikan nasional, konsumsi produk seafood yang kandungan gizinya mencerdaskan sekaligus menyehatkan itu masih rendah. Tahun lalu tingkat konsumsi ikan di Jatim rata-rata 17,31 kilogram/kapita/tahun. Jumlah tersebut masih jauh dari kata ideal. Idealnya adalah 28,0 kilogram/kapita/tahun. Bandingkan dengan konsumsi ikan di Jepang yang mencapai 110 kilogram/kapita/tahun, Amerika Serikat 80 kilogram/kapita/tahun, Singapura 84 kilogram/kapita/tahun, serta Malaysia 45 kilogram/kapita/tahun.
Sampai saat ini, posisi Jepang sebagai negara pengonsumsi ikan terbesar di dunia masih tak tergoyahkan. Tak heran, Negara Matahari Terbit itu unggul dalam berbagai bidang. Umur harapan hidup rata-rata penduduk Jepang menempati posisi tertinggi di dunia. Yaitu, 76,3 tahun untuk pria dan 82,5 tahun untuk wanita.
Melihat kenyataan tersebut, seharusnya gerakan makan ikan mendesak dibudayakan lagi. Terutama untuk memenuhi kecukupan gizi balita. Sosialisasi budaya makan ikan sebaiknya melibatkan semua komponen masyarakat.
Komoditas ikan mempunyai kandungan protein berkisar 20-35 persen. Ikan menjadi sumber protein utama dalam konsumsi pangan. Ikan mengandung omega-3 tinggi yang melebihi produk hewani dan nabati lainnya. Ikan juga mengandung eikosapentaenoat (EPA) yang dapat mencegah penyakit yang berhubungan dengan kolesterol.
Omega-3 terbukti mencegah aterosklerosis dan penyakit jantung. Manfaat lainnya, meningkatkan kecerdasan otak dan memperbaiki penglihatan. Kandungan gizi lain dalam ikan dan produk laut adalah vitamin A, zat besi, kalsium, dan yodium. Zat-zat tersebut mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah penyakit gondok.
Rabu, 11 Agustus 2010
Apakah Ikan Tidur?
SEBAGIAN di antara kita sering kali tergelitik oleh pertanyaan, apakah sepanjang hidupnya ikan pernah tidur? Jika memang ya, lantas bagaimana mereka bisa tidur, mengingat selama hidupnya mereka harus berada di dalam air?
Pada dasarnya, setiap makhluk hidup harus beristirahat dan tidur. Demikian juga dengan ikan. Jika tidak, ikan bisa menjadi lemah dan bahkan mati. Meski demikian, terdapat perbedaan antara tidur ikan dan manusia, termasuk cara, kapan, dan berapa lama ikan-ikan harus tidur. Saat tidur, ikan juga tidak bisa menutup matanya karena memang tidak punya kelopak mata. Kesamaannya hanya pada kebutuhan akan tempat yang aman dan nyaman. Biasanya, ikan tidak tidur di tempat tertentu, misalnya di sarang. Ikan bisa tidur di sebarang tempat, asalkan cocok.
Jika kebetulan di rumah punya akuarium dengan ikan mas atau minow di dalamnya, perhatikanlah saat ikan-ikan tersebut diam tak bergerak di dasar akurium pada malam hari. Itulah cara ikan mas dan minow tidur. Mereka beristirahat di malam hari, berbeda dengan serowot yang tidur pada siang hari dan aktif pada malam hari.
Beberapa jenis ikan juga punya perilaku yang unik saat mereka tidur. Ikan baronang misalnya, tidur pada malam hari dengan cara miring di celah bebatuan. Ikan karper eropa tidur malam hari di dalam “taman karang” idamannya, sedangkan ikan sidat gusi tidur di pasir pada siang hari dengan kepala menyembul. Pada malam hari sidat gusi justru berkeliaran mencari pakan.
Hasil riset terbaru yang dilakukan Emmanuel Mignot, profesor psikiatri dan ilmu tingkah laku di Universitas Stanford, AS, memperlihatkan bahwa ikan zebra butuh tidur meski hanya sebentar. Yang menarik, hasil riset yang laporannya dimuat dalam jurnal PloS Biology edisi 16 Oktober 2007 itu juga memperlihatkan adanya gejala unik, ikan bisa mengalami kesulitan tidur atau insomnia pada malam hari, khususnya ketika kehidupan biologinya dikacaukan.
Mignot dan koleganya yang memonitor ikan zebra di akurium menemukan, ketika ikan-ikan itu tertidur, ekor mereka lunglai dan menghabiskan sebagian besar malam dengan berada di dasar akuarium. Lalu, mereka memonitor pola tidur sekejap pada ikan zebra normal dan ikan zebra mutan yang fungsi reseptor hypocretin-nya dikurangi. Secara keseluruhan, tidur sebentar dari ikan zebra mutan menurun sekitar 30 persen jika dibandingkan dengan ikan zebra normal. Ketika ikan-ikan mutan itu akhirnya ditidurkan, mereka hanya mampu tidur setengah waktu tidur ikan normal.
Pada dasarnya, setiap makhluk hidup harus beristirahat dan tidur. Demikian juga dengan ikan. Jika tidak, ikan bisa menjadi lemah dan bahkan mati. Meski demikian, terdapat perbedaan antara tidur ikan dan manusia, termasuk cara, kapan, dan berapa lama ikan-ikan harus tidur. Saat tidur, ikan juga tidak bisa menutup matanya karena memang tidak punya kelopak mata. Kesamaannya hanya pada kebutuhan akan tempat yang aman dan nyaman. Biasanya, ikan tidak tidur di tempat tertentu, misalnya di sarang. Ikan bisa tidur di sebarang tempat, asalkan cocok.
Jika kebetulan di rumah punya akuarium dengan ikan mas atau minow di dalamnya, perhatikanlah saat ikan-ikan tersebut diam tak bergerak di dasar akurium pada malam hari. Itulah cara ikan mas dan minow tidur. Mereka beristirahat di malam hari, berbeda dengan serowot yang tidur pada siang hari dan aktif pada malam hari.
Beberapa jenis ikan juga punya perilaku yang unik saat mereka tidur. Ikan baronang misalnya, tidur pada malam hari dengan cara miring di celah bebatuan. Ikan karper eropa tidur malam hari di dalam “taman karang” idamannya, sedangkan ikan sidat gusi tidur di pasir pada siang hari dengan kepala menyembul. Pada malam hari sidat gusi justru berkeliaran mencari pakan.
Hasil riset terbaru yang dilakukan Emmanuel Mignot, profesor psikiatri dan ilmu tingkah laku di Universitas Stanford, AS, memperlihatkan bahwa ikan zebra butuh tidur meski hanya sebentar. Yang menarik, hasil riset yang laporannya dimuat dalam jurnal PloS Biology edisi 16 Oktober 2007 itu juga memperlihatkan adanya gejala unik, ikan bisa mengalami kesulitan tidur atau insomnia pada malam hari, khususnya ketika kehidupan biologinya dikacaukan.
Mignot dan koleganya yang memonitor ikan zebra di akurium menemukan, ketika ikan-ikan itu tertidur, ekor mereka lunglai dan menghabiskan sebagian besar malam dengan berada di dasar akuarium. Lalu, mereka memonitor pola tidur sekejap pada ikan zebra normal dan ikan zebra mutan yang fungsi reseptor hypocretin-nya dikurangi. Secara keseluruhan, tidur sebentar dari ikan zebra mutan menurun sekitar 30 persen jika dibandingkan dengan ikan zebra normal. Ketika ikan-ikan mutan itu akhirnya ditidurkan, mereka hanya mampu tidur setengah waktu tidur ikan normal.
Langganan:
Postingan (Atom)